Distingsi Akal dan Intelek: Tinjauan Ruhiologi terhadap Proses Berfikir dan Pemahaman Hakikat Ilmu
Keywords:
Kata Kunci: Akal, Intelek, Ruhiologi, Berfikir, Hakikat ilmuAbstract
Islam memandang kapasitas akal sebagai mata yang membutuhkan kejernihan batin dan "cahaya" pemikiran yang tajam untuk memahami hakikat kebenaran. Sayangnya, komponen kognitif kerap menjadi satu-satunya fokus dalam sistem pendidikan modern. Studi kualitatif yang menggunakan pendekatan studi pustaka (library research) ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan mendasar antara pemahaman mengenai esensi pengetahuan (intelek) dan penalaran logis (akal). Hasil kajian menunjukkan bahwa menjadikan akal sekadar sebagai alat teknis-administratif hanya akan berujung pada kelelahan kognitif yang sia-sia. Studi ini menyarankan penyelarasan antara tafakkur (perenungan) dan tadabbur (refleksi mendalam) guna memulihkan peran intelektualitas. Pendekatan ini mengubah pengetahuan menjadi sebuah perjalanan spiritual yang membentuk insan beradab, alih-alih sekadar kumpulan fakta belaka. Kesimpulannya, sejauh mana pengetahuan memperkaya karakter dan memberikan manfaat nyata bagi orang lain saat ini merupakan indikator keberhasilan pendidikan sejati yang lebih baik dibandingkan pencapaian administratif di atas kertas.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Integrative Perspectives of Social and Science Journal

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional









